Memberarea.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pasukan Kurdi tidak akan dilibatkan dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Iran. Keputusan tersebut diambil untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat berada di dalam pesawat kepresidenan Air Force One ketika dalam perjalanan menuju Florida setelah menghadiri upacara penghormatan militer bagi enam tentara AS yang gugur akibat serangan balasan Iran.
Trump Ingin Hindari Konflik Semakin Meluas
Pasukan Kurdi Diminta Tidak Ikut Perang
Trump menjelaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat memiliki hubungan yang baik dengan kelompok Kurdi. Meski demikian, ia menilai keterlibatan mereka dalam konflik saat ini dapat membuat situasi menjadi lebih rumit.
Oleh karena itu, Trump secara langsung meminta kelompok tersebut untuk tidak mengambil bagian dalam operasi militer melawan Iran.
Menurutnya, beberapa kelompok Kurdi sebelumnya telah menyampaikan kesiapan untuk bergerak masuk ke wilayah Iran. Namun, ia tetap menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan keterlibatan tersebut.
Israel Disebut Ingin Libatkan Kelompok Kurdi
Upaya Membuka Jalur ke Iran Barat Laut
Sebelumnya, militer Israel dilaporkan berusaha membuka peluang bagi kelompok Kurdi bersenjata untuk bergerak ke wilayah barat laut Iran.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk mendorong perlawanan terhadap pemerintah di Teheran.
Namun, keputusan Trump menegaskan bahwa pasukan Kurdi tidak akan dilibatkan dalam operasi militer tersebut.
Peran Kurdi dalam Konflik Timur Tengah
Kelompok Etnis Tanpa Negara
Kelompok Kurdi dikenal sebagai salah satu etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki negara sendiri. Mereka tersebar di sejumlah negara di Timur Tengah seperti Irak, Iran, Turki, dan Suriah.
Selama beberapa dekade, kelompok Kurdi sering menjadi sekutu militer bagi Amerika Serikat dan negara Barat dalam berbagai konflik di kawasan.
Salah satu contoh penting terjadi pada tahun 1991 ketika perlindungan udara dari Amerika Serikat membantu terbentuknya pemerintahan Kurdi semi-otonom di Irak dengan pusat pemerintahan di Erbil.
Kekhawatiran Dampak Regional
Pemimpin Kurdi Masih Berhati-hati
Meski terdapat laporan bahwa beberapa faksi Kurdi mempertimbangkan kemungkinan operasi lintas batas menuju Iran, para pemimpin Kurdi di Irak disebut masih bersikap hati-hati dalam menentukan langkah.
Mereka menyadari bahwa keterlibatan langsung dapat memicu ketegangan yang lebih besar di kawasan.
Iran dan Turki Beri Peringatan
Sementara itu, pejabat tinggi Iran, Ali Larijani, sebelumnya menyatakan bahwa negaranya telah menyerang kelompok Kurdi di wilayah Irak. Ia juga memperingatkan bahwa Iran tidak akan mentoleransi aktivitas separatis di dekat perbatasannya.
Di sisi lain, pemerintah Turki juga menyampaikan kekhawatiran bahwa gerakan separatis Kurdi dapat mengancam stabilitas kawasan serta integritas wilayah negara-negara di sekitarnya.
Menurut analis dari Middle East Research Institute yang berbasis di Erbil, kelompok-kelompok Kurdi saat ini masih terpecah dan belum memiliki kekuatan militer yang cukup untuk secara langsung menantang Iran. Namun, mereka tetap berpotensi menjadi faktor tekanan di wilayah perbatasan.
