Memberarea.id – Kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat menjadi perhatian serius dalam beberapa pekan terakhir. Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menuding Presiden Donald Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab atas lonjakan harga bensin yang terjadi secara signifikan.
Schumer menyebut harga bensin nasional yang sebelumnya berada di kisaran USD 2,93 per galon kini melonjak mendekati USD 4 per galon dalam waktu kurang dari satu bulan.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Harga Energi
Pasokan Minyak Global Terganggu
Kenaikan harga ini tidak lepas dari memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya setelah operasi militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran. Ketegangan tersebut berdampak langsung pada distribusi minyak dunia.
Serangan yang terjadi di jalur strategis seperti Selat Hormuz turut mengganggu arus ekspor minyak dari kawasan tersebut, sehingga memicu kenaikan harga bahan baku energi.
Harga Bensin Diprediksi Terus Naik
Berdasarkan data dari American Automobile Association, harga rata-rata bensin di AS telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Analis energi Patrick De Haan dari GasBuddy memperkirakan harga bisa menembus USD 4,10 per galon dalam waktu dekat.
Kondisi ini berpotensi menambah beban masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan inflasi.
Dampak Politik bagi Pemerintahan Trump
Isu Energi Jadi Sorotan Kampanye
Lonjakan harga bahan bakar kini menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik, terutama menjelang pemilihan paruh waktu di AS. Kenaikan harga energi dinilai dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah.
Padahal, Trump sebelumnya berjanji akan menekan harga energi serta meningkatkan produksi minyak dan gas domestik.
Kebijakan Pemerintah untuk Menekan Harga
Pengecualian Jones Act
Sebagai langkah respons, pemerintahan Trump mengeluarkan kebijakan pengecualian sementara terhadap Jones Act selama 60 hari. Kebijakan ini memungkinkan kapal asing mengangkut bahan bakar dan komoditas lainnya antar pelabuhan di AS.
Namun, para pelaku industri menilai dampak kebijakan ini terhadap penurunan harga kemungkinan tidak terlalu signifikan.
Relaksasi Aturan Bensin Musim Panas
Pemerintah juga berencana melonggarkan regulasi bahan bakar musim panas yang biasanya diterapkan untuk mengurangi emisi. Kebijakan ini diperkirakan dapat menurunkan harga bensin sekitar 10 hingga 20 sen per galon.
Wilayah perkotaan seperti Chicago, New York, dan Washington D.C. disebut berpotensi merasakan manfaat terbesar dari kebijakan ini.
Prospek Harga Energi ke Depan
Meski sejumlah langkah telah diambil, para analis menilai harga bensin masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya kondisi geopolitik dan stabilitas pasokan minyak.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, tekanan terhadap harga energi diperkirakan masih akan bertahan dalam waktu dekat.










