Memberarea.id – Kasus meninggalnya NS (12), siswa SMP asal Surade, Kabupaten Sukabumi, terus mengungkap fakta memilukan. Setelah dugaan penganiayaan oleh ibu tiri mencuat, kini ibu kandung korban, Lisnawati, melaporkan mantan suaminya berinisial AS ke pihak kepolisian.
Lisnawati mendatangi Polres Sukabumi Kota dengan laporan dugaan pembiaran dan penelantaran anak yang diduga berujung pada kematian sang buah hati. Laporan ini diajukan di tengah duka mendalam yang masih ia rasakan.
Alasan Lisnawati Tak Bertemu Anak Selama Empat Tahun
Trauma KDRT Jadi Pemicu Jarak dengan Anak
Lisnawati mengungkapkan bahwa absennya dirinya dalam kehidupan NS selama empat tahun terakhir bukan karena kurangnya kasih sayang. Ia mengaku menjauh karena trauma berat akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialaminya selama menikah dengan AS.
Ia menyebut kerap mengalami kekerasan fisik dan verbal, bahkan sejak masih mengandung NS. Ancaman serta perlakuan kasar itu membuatnya hidup dalam ketakutan dan memilih menjauh demi keselamatan diri.
Dugaan Pembiaran oleh Ayah Korban
Bukti Percakapan Jadi Dasar Laporan Polisi
Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, menjelaskan bahwa laporan tersebut menitikberatkan pada dugaan kelalaian AS sebagai ayah. Menurutnya, terdapat bukti percakapan singkat yang menunjukkan sikap tidak peduli terhadap kondisi kesehatan NS menjelang wafat.
Dalam pesan tersebut, AS disebut menolak membawa anaknya ke rumah sakit dengan alasan sibuk, bahkan menanggapi kondisi kritis NS dengan kalimat bernada pasrah. Hal itu dinilai sebagai bentuk pembiaran yang serius.
Krisna menegaskan, saat NS masih diasuh oleh ibunya hingga usia tujuh tahun, kondisi anak sehat dan tumbuh normal. Luka lebam serta bekas trauma fisik baru diketahui setelah NS berada dalam kondisi kritis.
Kasus Dapat Perhatian DPR dan KPAI
Tragedi ini kini menjadi sorotan nasional. Kasus kematian NS mendapat perhatian dari Komisi III DPR RI serta KPAI, yang mendorong penanganan hukum secara transparan dan menyeluruh.
Lisnawati menyebut kematian putranya menjadi titik balik untuk berani melawan rasa takut yang selama ini menghantuinya. Ia berharap keadilan dapat ditegakkan demi almarhum anaknya.
“Yang penting sekarang doa terbaik untuk anak saya,” ujarnya singkat, menahan air mata.










