Memberarea.id – Pemerintah Kota Jakarta Barat melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup mengambil langkah taktis untuk mengatasi pembatasan pengiriman sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Kebijakan ini diterapkan setelah kuota pengangkutan harian mengalami penurunan signifikan.
Kepala Sudin LH Jakarta Barat, Achmad Hariadi, menjelaskan bahwa pihaknya kini menggunakan metode pengangkutan bertahap dengan memaksimalkan kapasitas truk besar.
Optimalisasi Truk Besar dan Pemadatan Sampah
Dalam skema baru ini, kendaraan pengangkut kecil tidak lagi langsung menuju TPST. Sampah yang dikumpulkan oleh truk kecil akan dipadatkan terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke truk berkapasitas besar.
Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan di tengah keterbatasan armada yang diizinkan masuk ke TPST Bantar Gebang.
Selain itu, ritase pengangkutan juga ditingkatkan. Jika sebelumnya satu truk hanya melakukan satu kali perjalanan, kini ditambah menjadi dua kali untuk mengoptimalkan distribusi sampah.
Prioritas Penanganan Sampah di Jalan Protokol
Fokus pada Area Vital Kota
Dalam kondisi terbatas ini, pemerintah memprioritaskan pembersihan sampah di jalur-jalur utama atau jalan protokol. Hal ini dilakukan agar aktivitas masyarakat tidak terganggu oleh penumpukan sampah.
Sementara itu, penanganan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) tetap dilakukan dengan armada yang tersedia, meskipun harus dilakukan secara bertahap.
Dampak Pengurangan Kuota dan Penumpukan Sampah
Penurunan Kuota hingga 38 Persen
Pengurangan kuota pengangkutan terjadi setelah insiden longsor yang berdampak pada operasional TPST. Jumlah truk yang diizinkan beroperasi turun dari 308 unit menjadi hanya 190 unit per hari.
Akibatnya, sekitar 118 truk sampah tidak dapat melakukan pengiriman setiap harinya, sehingga memicu penumpukan di sejumlah titik.
TPS Berubah Fungsi Jadi Tempat Pembuangan
Kondisi ini diperparah oleh perilaku warga yang menggunakan TPS depo sebagai tempat pembuangan akhir. Padahal, lokasi tersebut seharusnya hanya berfungsi sebagai titik transit sebelum sampah diangkut ke tempat pengolahan.
Salah satu wilayah terdampak adalah kawasan Kalianyar, di mana keterbatasan fasilitas membuat warga membuang sampah di pinggir kali.
Upaya Berkelanjutan Atasi Krisis Sampah
Pemerintah Kota Jakarta Barat menegaskan akan terus melakukan berbagai penyesuaian guna mengatasi keterbatasan kuota pengangkutan. Optimalisasi armada, peningkatan ritase, serta penataan sistem TPS menjadi fokus utama dalam menjaga kebersihan kota di tengah kondisi darurat ini.
Langkah ini diharapkan mampu menekan penumpukan sampah sekaligus menjaga kenyamanan lingkungan bagi masyarakat.










